Bahrul 'Ilmi – LDJ Teknik Kelautan FTK ITS

Salam Cinta dan Perjuangan. Terukir kisah yang indah tatkala dakwah ini diusung oleh orang-orang yang tabah dan berjiwa besar.

Kategori

Sepertinya terdapat kesalahan pada konfigurasi URL situs WordPress. Periksa di pengaturan widget Anda.

Follow Bahrul 'Ilmi – LDJ Teknik Kelautan FTK ITS on WordPress.com

Klik Tertinggi

  • Tidak ada

Hak Media “Kekerasan, Perlukah Diberitakan?”

Apakah media seharusnya memiliki hak untuk menayangkan dan meliput mengenai berita kekerasan? Tentu akan ada pihak yang berdalih bahwa media seharusnya punya hak menayangkan hal tersebut. Pertama, media memiliki hak spesial yaitu hak kebebasan pers dan kedua, sebagai sarana informasi. Tetapi, apakah benar seperti itu? Apakah semua berita layak untuk ditayangkan meskipun itu berita “kekerasan”?

Hak Kebebasan Pers

Kebebasan pers nasional tercantum dalam pasal 4 ayat 3 UU No. 40 Th 1999 tentang Pers bahwa pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.  Begitupun kebebasan pers yang diperkenalkan oleh Robert Hutchins (1942-1947) yakni ada lima prasyarat kebebasan pers, salah satunya adalah pers harus menyajikan dalam pemberitaan yang benar, komprehensif dan cerdas, pers dituntut untuk selalu akurat, dan tidak berbohong. Berpijak pada prasyarat tersebut dapat dijadikan acuan seperti apakah berita yang layak dipublikasikan. Jika berita tersebut dalam hal kebaikan tentunya dapat memberikan informasi yang bermanfaat serta memotivasi, namun jika berita yang disebarkan adalah mengenai keburukan berupa kekerasan?

(lebih…)

Oil Rig L32Dari kiri ke kanan : Fikri imanudin, Achmad Mikail Rizki, Marsanura Hibatullah, dan Galura Wirautama. (Foto diambil dari Fikri Imanudin(Kadiv Bahrul Ilmi 2015-2016))


SURABAYA, LDJ Bahrul Ilmi Teknik Kelautan ITS – Empat mahasiswa muslim 2014 yang tengah menempuh studi di Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan Oil Rig Design Competition yang merupakan rangkaian acara Oil Expo 2015. Perlombaan ini diadakan oleh Himpunan Teknik Perminyakan Trisakti, Kamis, 11 Juni 2015.

Keempat mahasiswa muslim tersebut adalah Fikri Imanudin, Achmad Mikail Rizki, Galura Wirautama, dan Marsanura Hibatullah. Walaupun mereka masih menempuh semester 2 yang notabenenya masih awal belajar di Teknik Kelautan ITS, namun mereka tidak merasa minder untuk mengikuti ajang perlombaan bergengsi ini.

“Kami tidak minder mas mengikuti perlombaan ini, walau lawan saya rata-rata semester 4 dan 6 dari perguruan tinggi ternama di Indonesia. Kami termotivasi untuk ikut serta membanggakan Teknik Kelautan dan juga ingin cari pengalaman. Harapan kami temen-teman Teknik Kelautan bisa ikut lomba sejenis ini juga karena ternyata setiap tahun banyak banget lembaga yang ngadain lomba kayak gini”. Ujar Fikri, saat dihubungi oleh Tim Bahrul Ilmi, Sabtu (13/06/15)

Allah menjanjikan bagi orang-orang yang menuntut ilmu, sesuai yang tercantum dalam surah Al-Mujadalah ayat 11:

             يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Terjemahanya :
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al-mujadalah 11)

 

Penulis : Asf (Dept. Syiar)

Gaza, Ketika “Bangsa Pilihan Tuhan” Lupa Sejarah

Oleh

Guntar Ramadhan

Sekretaris Jenderal LDJ Bahrul ‘Ilmi

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Awal abad 20 merupakan awal bagi berkembangnya kekuasaan Barat di wilayah Timur Tengah yang kala itu dikuasai oleh Kekuasaan Turki Utsmani. Inggris yang menjalin perjanjian dengan Pemimpin Provinsi Arab kala itu, untuk bekerjasama dalam meruntuhkan Kekhalifahan Turki Utsmani dan telah berhasil melancarkan aksinya.  Terbukti selama Perang Dunia 1 terjadi, Inggris berhasil menancapkan kekuasaannya di wilayah tersebut. Tapi, ada satu hal yang mesti menjadi perhatian umat Islam, yaitu fakta mengenai perjanjian pembentukan “Perumahan Nasional Yahudi di Palestina”, atau dalam kata lain pembentukan sebuah negara Yahudi. Dan pada akhirnya semenjak holocaust Hitler kepada kaum Yahudi pada era 1930-an menjadikan banyak kaum Yahudi Eropa yang berimigrasi ke Palestina. Inilah sesuatu yang sangat krusial ketika masa depan Palestina telah ditentukan.(http://www.merip.org/palestine-israel_primer/brit-mandate-pal-isr-prime.html)

Dan pada 1948 terbentuklah sebuah negara yang dikenal sekarang dengan nama Israel. Kedzalimanpun dilakukan oleh bangsa yang baru mendirikan negara ini kepada penduduk tanah yang mereka diami yaitu Palestina, penduduk Gaza. Dan walaupun Palestina telah diakui sebagai sebuah negara oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/11/30/me9uwg-alhamdulillahpalestina-diakui-di-pbb) masih saja mendapatkan kecaman dari Israel. Lalu, yang patut menjadi pertanyaan, kenapa Palestina yang menjadi sasaran kedzaliman Yahudi?

Elisabeth Diana Dewi dalam karya ilmiahnya, The Creation of The State of Israel menguraikan bahwa secara filosofi, negara Israel dibentuk berdasarkan tiga keyakinan yang tidak boleh dipertanyakan: (1) Tanah Israel hanya diberikan untuk bangsa pilihan Tuhan sebagai bagian dari janji-Nya kepada mereka. (2) Pembentukan negara Israel modern adalah proses terbesar dari penyelamatan tanah bangsa Yahudi. (3) Pembentukan negara bagi mereka adalah solusi atas sejarah penderitaan Yahudi yang berjuang dalam kondisi tercerai berai. Maka, merebut kembali seluruh tanah yang dijanjikan dalam Bibel adalah setara dengan penderitaan mereka selama 3000 tahun. Oleh sebab itu, semua bangsa non-Yahudi yang hidup di tanah itu adalah perampas dan layak untuk dibinasakan. (http://www.gaulislam.com/12-rahasia-kejahatan-yahudi-dalam-kitab-suci)

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.(Al Quran surat 2 : 92) Di ayat selanjutnya juga diterangkan dalam Tafsir Jalalin, (Dan ketika Kami mengambil ikrar darimu) untuk mengamalkan apa yang terdapat dalam Taurat (dan) sungguh (Kami angkat bukit di atasmu) maksudnya bukit Sinai, yakni untuk dijatuhkan di atasmu karena kamu menolak untuk berikrar itu, seraya Kami berfirman, (“Peganglah apa yang Kami berikan padamu) maksudnya taatilah dengan serius dan bersungguh-sungguh (dan dengarkanlah!”) Apa yang akan dititahkan kepadamu dengan patuh (Mereka menjawab, “Kami dengar) firman-Mu (tetapi tak hendak kami patuhi.”) perintah-Mu itu (dan diminumkan ke dalam hati mereka anak sapi) artinya diresapkan ke dalam hati mereka itu kecintaan menyembah anak sapi tak ubah bagai meresapnya minuman (karena kekafiran mereka. Katakanlah) kepada mereka, (“Teramat jahatlah apa) maksudnya sesuatu (yang diperintahkan oleh keimananmu) terhadap Taurat itu, yaitu pemujaan anak sapi (jika kamu benar-benar beriman.”) kepadanya sebagai pengakuanmu itu! Maksud ayat, sebenarnya kamu tidak beriman, karena beriman yang sesungguhnya tidak mungkin menyuruh orang untuk menyembah anak sapi. Yang diceritakan di sini nenek moyang mereka, tetapi yang dituju ialah mereka sendiri seolah-olah Allah berfirman, “Demikian pula halnya kamu tidak beriman pada Taurat, karena kamu mendustakan Muhammad, padahal keimanan pada kitab suci itu tak mungkin akan berakibat mendustakannya!”

Kerusakkan yang ditimbulkan oleh bangsa Yahudi sebenarnya sudah dilakukan semenjak dahulu, walaupun banyak nabi yang diturunkan dari bangsa Yahudi. Kesombongan, dan kemunafikan dari kaum inilah yang menjadikan kelupaan mereka akan pengalaman sejarah. Sejarah masa lalu bangsa Yahudi yang penuh kemajuan di bawah kekuasaan Islam terbukti pada masa Rasulullah SAW hingga Turki Utsmani, yang kesemuanya itu telah tercatat dalam catatan sejarah manusia. Berbeda dengan ketika Yahudi dikuasai oleh kekuasaan kafir, Firaun hingga Romawi, mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, diperbudak, dan diusir dari negerinya. Dan berbeda pula ketika Yahudi dibiarkan berkuasa, maka kerusakkanlah yang akan terjadi di dunia. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Al Quran surat 17 : 4)

Wallahu a’lam.

Tahukah Anda Apa Itu Istidraj?

(Halaman 2 dari 2)

Jangan dulu gembira jika Anda terus menerus dilimpahi harta, kesenangan, kesuksesan sementara hidup Anda dari dulu tidak pernah diisi dengan ibadah. Shalat pun tidak, puasa tak pernah dan zakat pun enggan. Sudah meninggalkan dunia hitam (alias rambut sudah putih semua) namun tak pernah mengaji Al-Qur’an bahkan mengenal huruf nya pun tidak.

Maka bisa jadi itu adalah istidraj < Klik untuk Defensi lengkapnya. Yaitu sengaja Allah limpahi Anda dengan kesenangan dan dibukakan dunia agar semakain terjerumus diri kita. Cirinya : semakin maksiat justru semakin kaya rasa, semakin bejat justru semakin sukses, walhasil semakin jahatlah orang itu..

Maka istidraj ini tidak datang dengan tiba-tiba. Keputusan Allah memberikan istidraj disebabkan oleh perbuatan dan sikap diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tidak Beriman

Ketika Allah melimpahkan sebagian harta duniawi kepada hambanya tidak serta merta itu menjadi istidraj kecuali jika ia memang kafir. Maka salah satu penyebab Istidraj adalah penolakan terhadap keimanan yaitu kekafiran. Oleh karena itu harta yang diperoleh orang kafir jelas merupakan istidraj. Karena dengan harta itu orang kafir akan berbangga dengan kekuatan yang ada dalam diri mereka dan saling tolong menolong dalam kekafiran.

Adapun orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain (Q.S. Al-Anfaal  [8] : 73)

Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu (di dunia), karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka (Q.S. Ibrahim [14] :30)

 (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Mursalat [77] : 46)

biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya (Q.S. Al-An’aam [6] :91)

  1. Syirik

Apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S. Az-Zumar [39] :8)

  1. Kemunafikan

Sebab lain terjadinya istidraj ialah kemunafikan. Kemunafikan di sini adalah munafik haqiqi yaitu orang yang berpura-pura masuk Islam sedangkan hatinya sebenarnya tidak menerima kebenaran Islam. Maka orang munafik hakiki sama kedudukannya dengan orang kafir. Dan jika orang munafik itu dilimpahi kelimpahan harta maka janganlah kita iri karena hal itu merupakan istidraj.

Dan apabila kamu melihat mereka(orang munafik) , tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum (karena keelokannya). Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka (karena pandai bicara). Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.  Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka  waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Q.S. Al-Munafiquun [63 ] : 4)

Pada ayat di atas diisyaratkan bahwa istidraj tak hanya berupa harta, namun bisa juga berupa tubuh yang elok dan kefasihan kata-kata atau kepandaian berbicara di depan umum. Sehingga orang-orang menjadi terkesima dan terpengaruh mendengar perkataan mereka. Sedangkan mereka dihinggapi rasa narsis yang akut sehingga mengira bahwa setiap sorak sorai itu ditujukan bagi dirinya. Orang seperti ini mengira setiap orang memperhatikan dirinya, dan dimana saja ia merasa menjadi perhatian orang.

Maka terhadap orang munafik seperti ini Allah justru sengaja membiarkan saja mereka bersenang-senang di dunia dan dilimpahi harta yang banyak, kepandaian, ketenaran, tubuh yang elok (karena banyak harta wajar saja jika mereka mampu merawat tubuhnya dengan berbagai treatment sehingga tubuhnya sangat elok).

  1. Sombong Terhadap Kebenaran

Sombong yang dimaksud di sini adalah sombong yang menyebabkan ia menolak kebenaran. Maka orang seperti ini mungkin saja akan tertimpa istidraj. Maka harta yang ada padanya hanya akan menyebabkan dirinya semakin sombong dan jauh dari kebenaran.

Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu diba lasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik (Q.S. Al-Ahqaaf  [46] :20)

Ibnu mas’ud ia memarfukannya : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji dari kesombongan” Ada seseorang yang bertanya : Sesungguhnya seseorang suka kalau pakaiannya bagus dan terompahnya bagus” Ia (Rasulullah SAW) bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menghina manusia”(H.R. Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud)

  1. Hamba Dunia dan Cinta Dunia

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan(Q.S. Al-Al-Fajr [89] : 15-17)

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At-Taubah  [9] : 24)

Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. (Q.S. Muhammad [47] :12)

Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu.” (Q.S. Adz-Dzaariyat [51] :43)

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Begitulah manusia, bila dunia telah menjadi besar di penglihatnnya, dan mendiami reuang yang luas dalam relung hatinya, niscaya ia akan menilainya lebih besar dari Tuhannya, lalu menjadikan dirinya hamba yang amat patuh padanya..” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 27)

  1. Memohon Dunia Saja

Sebagian orang ada yang pikirannya terfokus pada keinginan dunia saja. Siang malam ia berusaha mati-matian untuk meraih dunia. Segenap pikiran dan waktunya dicurahkan untuk memperoleh dunia. Akhirat sama sekali terlewat dari pikirannya. Kalaupun ia ingat berdoa, semata memohon keberhasilan dunia.

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. (Q.S. An-Nisaa[4] : 134)

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu (di dunia) baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (Q.S. Asy-Syuura  [42] :20)

Perhatikanlah ayat di atas, jika Anda mengharapkan akhirat maka Allah akan memberikan akhirat plus ditambah keuntungannya yaitu sebagian nikmat dunia. Sedangkan bagi orang yang hanya mengharapkan dunia, maka hanya sebagian nikmat dunia yang dibukakan sedangkan tak mendapat kenimatan akhirat.

Maka orang seperti ini akan ditimpa istidraj. Yaitu mungkin saja Allah mengabulkan jerih payahnya siang malam meraih dunia itu sehingga tercapailah apa yang dia rencanakan dan dia idam-idamkan. Namun hal itu sama sekali tidak baik baginya. Mengapa? Karena dengan tercapainya apa yang dia inginkan itu akan semakin membuat dirinya lupa pada akhirat dan semakin banyak hartanya semakin sibuk ia dibuatnya.

Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Kumail bin Ziyad An-Nakha’iy berkata : “Wahai Kumail ilmu lebih utama dariapada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan harta, engkau harus menjaga hartamu” (Nahjul Balaghoh Mutiara Hal 35)

Dari Uqbah bin Amir r.a. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan kembali musyrik sepeninggalku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam kehidupan dunia. (H.R. Muslim No.4248)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwa Rasulullah saw. pada satu hari berada di atas mimbar lalu beliau bersabda: Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah antara Allah akan memberinya kemewahan dunia atau memberi sesuatu yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya. (H.R. Muslim No.4390)

  1. Bakhil dan Kikir

Istidraj juga dapat menimpa orang muslim yang kikir. Bagi orang muslim, berlimpahnya harta adalah sebuah ujian. Dengan kelimpahan harta itu Allah menyuruh untuk menafkahkan sebagian harta tersebut. Tidak seluruhnya namuan hanya “sebagian”.

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (Q.S. Al-Hadiid [57] :7)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah [2] : 261)

Namun sebagian manusia memang cenderung kikir. Dan bagi orang yang kikir maka kelimpahan harta itu bisa berubah menjadi istidraj yang menjerumuskannya kepada murka Allah.

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah (Q.S. At-Taubah [9] : 76-77)

Sekiranya manusia memiliki emas sepenuh dua lembah niscaya ia akan mencari yang ketiganya (H.R. Bukhari Muslim)

Dan manusia itu bersifat kikir (Q.S. An Nisaa’ [4] ; 128, Al Israa’ [17] : 100)

  1. Tamak dan Rakus Pada Dunia

Dari Ibnu Umar r.a.berkata : berkata Nabi SAW : Sesungguhnya seorang mukmin makan dengan satu ususu sedangkan si kafir makan dengan tujuh usus (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal marjan Jilid 2 No 1334)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda : “Dunia ini adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir. Sedangkan akhirat adalah surga bagi mukmin dan penjara bagi kafir (H.R. Tirmidzi No. 2246 Disahihkan oleh Albani)

  1. Tidak Bersyukur

Sebagian orang ditimpa istidraj karena mereka lupa kacang dengan kulitnya dan lupa bersyukur kepada Allah setelah Allah kabulkan doa mereka dan Allah limpahkan apa yang mereka inginkan. Hal ini sebagaimana digambarkan pada ayat berikut ini :

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan  (Q.S. Yunus [10] : 12)

Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka (Q.S. Yunus [10] : 11)

Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (Q.S. An-Nahl [16] :55)

Ali bin Abi Thalib pernah berkata mengenai ciri-ciri orang yang tidak bersyukur yaitu : Ia tidak mampu mensyukuri apa yang dikaruniakan kepadanya dan selalu menghendaki tambahan dari apa yang ada pada dirinya. Bila jatuh sakit ia menyesali dirinya tapi bila telah kembali sehat ia merasa aman berbuat sia-sia. (Mutiara Nahjul balaghoh Hal 37)

  1. Tidak  Amanah Terhadap Harta

Sebagian orang ditimpa istidraj karena ia tidak amanah dengan harta yang dilimpahkan Allah padanya. Dia membelanjakan harta itu untuk hal-hal kemaksiatan dan tidak digunakan untuk kebaikan.

mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (di dunia). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (Q.S. Al-Ankabut [29] :66)

mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). (Q.S. Ar-Ruum [30] :34)

Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

  1. Melakukan Kezhaliman Terus Menerus

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya (Q.S. Al-humazah [104] :1-3)

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil  (Q.S. Al-Qashash [28] :58)

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke-nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Q.S. Al-Qashash [28] :60)

Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. (H. Ath-Thabrani)

  1. Lupa Diri

Harta dan kenikmatan dunia itu pada asalnya adalah sesuatu yang dibolehkan, dan merupakan salah satu nikmat dari Allah. Tak ada yang mengharamkan perhiasan dunia dan menghalangi orang dari meraihnya.

Namun harta dan kenikmatan dunia itu berpotensi membuat orang lupa diri dan hanya sedikit sekali orang yang selamat dari godaan dunia.

Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku (Q.S. Shaad  [38] : 32)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Q.S. Al-An’aam [6] : 44)

Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan. (H.R. Ahmad)

  1. Merasa Semua Berjalan Sesuai Planning

Sebagian orang diberi harta, kedudukan, dan dibukakan berbagai kenikmatan dan keleluasaan di dunia pada mulanya sebagai ujian. Dan sebagian orang diwujudkan oleh Allah segala apa  yang direncanakannya dan segala apa yang dicita-citakannya. Maka orang itu kemudian merasa tidak ada campur tangan Allah dalam hal ini dan semua terwujud berkat upaya dirinya dan berkat kepandaiannya.

Qarun berkata : Sesungguhnya aku memiliki harta itu karena ilmu yang ada padaku (Q.S. Al-Qashash : 78)

Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu(Q.S. An-Nisaa’ [4] : 115)

Dan apakah ia (Qorun) tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Q.S. Al-Qashash [28] : 78) (Abu Akmal Mubarok)

Tahukah Anda Apa Itu Istidraj?

(Halaman 1 dari 2)

Secara harfiah istidraj artinya adalah “menarik” atau mengulur”.  dalam Kamus Al-Muhit karangan Al-Fairuz Abadi  “istidraj” bermakna ia menipu dan ia merendahkannya”.

Istilah ini dipakai dalam Al-Qur’an misalnya :

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat kami, maka kami akan menarik mereka (sanastadri-juhum), secara berangsur angsur (ke arah kebinasaan)  dengan cara yang mereka tidak ketahui” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 182)

Sedangkan secara istilah (terminologis) Ibnu Katsir menjelaskan bahwa istidraj ialah Allah dibukakan pintu rizqi dan berbagai sumber penghidupan lainnya sampai mereka terperdaya olehnya dan beranggapan bahwa diri mereka di atas segala-galanya.

Imam AlQurtubi Tafsir Jami’ Al-Ahkam berkata :  ‘Add-Dhohhak’ menafsirkan ayat Al-a’raf  ayat 182 di atas bahwa “Setiap kali mereka menambah/membuat/membaharui maksiat yg baru maka setiap ituAllah membaharui / menambah / membuat nikmat ke atas mereka”.Istidrajullah al-abda“(Allah menIstidrajkan hambanya) memiliki arti bahwa  setiap kali hambaNya berbuat kesalahan maka setiap kali itu juga Allah justru menambah nikmatNya.

Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (H.R. Muslim No.4680)

Apakah Kesuksesan Di Dunia Tanda Kasih Sayang Allah?

Dalam berbagai training motivasi sering dikatakan bahwa jika hubungan kita beres dengan Allah, maka pasti dunianya akan sukses. Artinya jika dunia tidak sukses dan hidup susah itu pertanda hubungan nya dengan Allah tidak baik. Premis ini ada baiknya untuk memotivasi orang agar mau mendekati agama. Motivator perlu menyatakan seperti itu karena kebanyakan orang jaman sekarang tidak mau melakukan sesuatu  yang tidak bermanfaat dan tidak menguntungkan. Dan semua itu diukur dengan materi.

Maka orang sering mengatakan “ngapain belajar agama, emangnya agama bisa bikin kamu kaya? Ngapain belajar agama emangnya mau jadi ustad?”.

Maka ketika motivator berkata bahwa agama bisa membawa kepada kemakmuran dan kesejahteraan di dunia, barulah orang mau mendekati agama.

Sebagian manusia mengira bahwa jika apa yang dicita-citakan tercapai, perdagangannya menguntungkan, karirnya sukses maka itu adalah tanda ia mendapatkan kasih sayang Allah. Sedangkan bila rejekinya sempit , perdagangannya merugi, musibah datang silih berganti itu adalah tanda Allah tidak menyayanginya.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”  Sekali-kali tidak (demikian) (Q.S. Al-Fajr [89] : 15-17)

Padahal belum tentu kesenangan dan kesuksesan yang selalu kita peroleh itu adalah sebuah kebaikan. Bisa jadi kesenangan dan kesuksesan itu justru sebuah ujian atau musibah.

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar (Q.S. Al-Mukminuun [23] : 55-56)

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Q.S. Ar-Ra’d [13] :26)

Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (H.R. Muslim dan Ibnu Majah)

Ukiran - Ukiran Perjuangan

Vi Veri Veniversum Vivus Vici

Ari's Journal

One of the believers.

Kajian Islam Nurul Ilmi (KINI)

AktifberSahabatIslamiKreatif (ASIK)

Al Bahri FTK

Murni dalam tauhid, mulia dalam bertindak

FSI Al Kaun's Weblog™

Meneladani Ash Shabiqunal Awwalun menuju Kemuliaan

Al-Hadiid

Lembaga Dakwah Jurusan Teknik Sipil ITS Surabaya

Bahrul 'Ilmi - LDJ Teknik Kelautan FTK ITS

DINAMIS DALAM BERGERAK, IKHLAS DALAM BERAMAL